Tugas Individu Jurnalistik : Tugas #4 “Laporan Interpretatif”

Nama : Rizma Bunga Vania

NPM   :18613017

Kelas  : 2SA06

Dosen : Ibu Dr. Nuriyati Samatan M.Ag

LAPORAN INTERPRETATIF

Berita Interpretatif

Istilah interpretative mulai dikenal didunia jurnalistik ketika Curtis D. MacDougall dari Northwestern University, Amerika, menulis buku berjudul Interpretative Reporting (1938). Sejak itulah istilah interpretative diterapkan untuk jenis reportase yang menempatkan berita “dalam konteks.”

Dalam berita interpretatif seorang wartawan harus berfikir layakanya ilmuan yang akan meneliti sebuah permasalahan. Wartawan harus memiliki kesimpulan atau kecurigaan awal tentang sebuah peristiwa. Kita mesti skeptis terhadap sebuah peristiwa. Peristiwa pasti terkait dengan sesuatu yang lebih besar dan penting. Dari kecurigaan tersebut wartawan mengumpulkan informasi sebagai bahan pembuktian. Informasi tersebut adalah hasil wawancara dengan narasumber, data-data, maupun pengamatan indrawi si wartawan. Setelah itu, informasi yang terhimpun disusun dalam sebuah berita.

Contoh berita interpretatif:

*contoh saya  ambil dari artikel di Kompas.com tanggal 13 November 2015 yang berjudul: “Kerja di Luar Negeri, Basisnya Mutlak Kompetensi”                         Link: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/11/13/122947126/Kerja.di.Luar.Negeri.Basisnya.Mutlak.Kompetensi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp *

KOMPAS.com—Besarnya peluang untuk bekerja di luar negeri mengharuskan Indonesia menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Kompetensi sesuai kebutuhan pasar di luar negeri akan menjadi bekal Tenaga Kerja Indonesia (TKI), termasuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah menjelang penerapannya pada akhir 2015.

“TKI yang bekerja ke luar negeri harus berbasis kompetensi, sehingga memiliki daya saing,  mendapatkan perlindungan hukum, dan menjadikan dirinya bermartabat di negeri orang,” ujar Direktur Pemetaan dan Harmonisasi Kualitas Tenaga Kerja Luar Negeri (TKLN) I Badan nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Naekma, Kamis (12/11/2015).

Dalam sambutan untuk wisuda STMIK Bina Sarana Global, Tangerang, Naekma juga berkali-kali dia menekankan bila ada alumnus hendak bekerja di luar negeri harus mengoptimalkan peluang berdasarkan kompetensi unggul.

“Peluang tersebut membawa banyak manfaat. Di antaranya, membuka akses informasi untuk bekerja ke luar negeri, peningkatan pendidikan masyarakat, penambahan pengalaman dan meningkatkan wawasan,” lanjut Naekma.

Selain itu, bekerja di luar negeri menjadi peluang untuk memperoleh keterampilan baru dan brain gain, sekaligus menjadi duta kebudayaan. MEA, imbuh Naekma, menandai babak baru sejarah integrasi  ekonomi di Kawasan Asia Tenggara dan langkah awal bagi Indonesia mempersiapkan diri menjadi pemain global.

“Tidak mudah bagi BNP2TKI menjawab tantangan global terhadap ketersediaan kompetensi sertifikasi profesi nasional maupun internasional. Oleh karena itu besar harapan kami  kepada para wisudawan dan wisudawati untuk tidak berhenti disini saja, tetapi terus memacu diri untuk selalu meningkatan kompetensi diri,” tambah Naekma.

Kompetensi, imbuh Naekma, juga tetap dibutuhkan untuk bekerja di dalam negeri. “Kita harus berjuang bersama–sama memajukan negeri ini dalam membangun ‘Indonesia in Corporated’. Kita tunjukan kompetensi anak–anak bangsa ke kancah internasional melalui penyelarasan kompetensi dunia pendidikan dan dunia kerja,” papar dia.

Untuk itu, menurut Naekma, BNP2TKI senantiasa terbuka untuk berkoordinasi serta bersinergi dengan institusi pemerintah, lembaga pendidikan, pelatihan, dan asosiasi profesi. “BNP2TKI menyadari bahwa tantangan perubahan ini  tidak mudah,” kata dia.

Cara pertama yang dilakukan BNP2TKI untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat adalah lewat pelayanan penempatan dan perlindungan TKI. Dengan harapan pelayanan lebih cepat, terjangkau, profesional, efisiensi, dan transparan, BNP2TKI menyiapkan empat pelayanan dalam jaringaan, yakni Jobsinfo, Sisko  TKLN, crisis center, dan Sipendaki.

Interpretasi saya akan berita diatas adalah

Menurut saya apa yang dikatakan Ibu Naekma adalah benar dan tepat sekali,TKI yang bekerja ke luar negeri harus berbasis kompetensi, sehingga memiliki daya saing, mendapatkan perlindungan hukum, dan menjadikan dirinya bermartabat di negeri orang.  Jangan sampai kita hanya mengirim TKI saja tetapi tidak dilatih terlebih dahulu dan TKI yang sudah dikirim tidak kita jaga dengan  perlindungan hukum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s