Nama : Rizma Bunga Vania

NPM   :18613017

Kelas  : 2SA06

Dosen : Ibu Dr. Nuriyati Samatan M.Ag

SEJARAH JURNALISTIK

 

  1. Asal Muasal Jurnalistik

Asal muasal kata jurnalistik atau jurnalisme berasal dari kata journal, yang artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari perkataan latin diurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik. Koleksi, persiapan, dan distribusi berita terkait komentar dan fitur melalui media berupa pamflet,, surat kabar, majalah, radio, gambar gerak, televisi, buku, dan blog.

Produk jurnalistik paling awal yang diketahui adalah seorang lembaran beredar di Roma Kuno yang disebut dengan acta diurna. Terbilang bahwa acta diurna muncul sekitar abad 59 SM, acta diurna mencatat acara-acara harian penting, contohnya pidato-pidato. Acta diurna dipublikasikan secara harian di tempat-tempat terkemuka.

Selama Dinasti Tang berlangsung, di Cina, pengadilan bundar yang disebut bao atau “laporan” dikeluarkan oleh pemerintah. Lembaran tersebut muncul di berbagai macam bentuk dan ditulis atas berbagai macam nama yang kurang lebih berkelanjutan sampai akhir Disnasti Qing di tahun 1911. Koran pertama kali yang diterbitkan secara berkala adalah di kota-kota di Jerman dan di Antwerp sekitar 1609. Koran Inggris pertama, Weekly Newes¸ diterbitkan pada tahun 1622. Salah satu koran harian pertama adalah The Daily Courant, terbit tahun 1702.

Pada awalnya terhalang oleh sensor , pajak , pembatasan lainnya yang diterapkan oleh pemerintah , surat kabar di abad ke-18 telah masuk untuk menikmati kebebasan dalam melapor dan fungsi yang sangat diperlukan yang telah dipertahankan sampai hari ini. Berkembangnya permintaan untuk surat kabar menyebabkan persebaran kemampuan baca-tulis dan media pers elektronik menyebabkan sirkulasi harian surat kabar meningkat dari ribuan menjadi ratusan ribuan hingga jutaan.

Majalah, dimana sudah mulai terbit diabad ke-17 mulau menampilkan artikel-artikel untuk mengemukakan pendapat tentang masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan, contohnya seperti Tatler (1709-1711) the Spector (1711-1712). Majalah yang muncul di 1830an adalah majalah yang menargetkan kaum yang lebih luas dan kurang berpendidikan, dan juga majalah ilustrasi dan majalah khusus wanita. Biaya berita skala besar yang terkumpul menyebabkan pembentukan kantor-kantor berita, organisasi yang menjual laporan internasional mereka kepada banyak surat kabar dan majalah.

Penemuan telegraf dan kemudian radio lalu televisi membawa kenaikan yang pesat dalam kecepatan dan ketepatan waktu dalam aktivitas jurnalisme dan dalam weaktu yang bersamaan, menyuguhkan saluran dan penonton dalam jumlah yang sangat besar untuk produk pendistribusian elektronik. Sekitar akhir abad ke-20, satelit-satelit kemudian internet digunakan untuk transmisi informasi jurnalistik jarak jauh.

  1. Asal Muasal Jurnalistik di Indonesia

Sejarah jurnalistik di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah jurnalistik dunia. Perkembangan jurnalistik di Indonesia juga tidak tipis pengaruhnya dari jurnalisme di negara-negara lain. Perkembangan jurnalistik di Indonesia selalu merekar dengan pemerintahan dan pergolakan politik yang sedang terjadi.

Menurut sejarah, jurnalistik di Indonesia terbagi menjadi 3, yaitu:

a. Pers Kolonial

Pers Kolonial dibangun oleh pemerintahn Belanda di Indonesia. Pada abad ke-18, muncul surat kabar bernama Bataviasche Nouvellesd. Pada tahun 1615 Gubernur Jenderal pertama VOC Jan Piterszoon Coen telah memerintahkan menerbitkan Memorie der Nouvelles, surat kabar yang berupa tulisan tangan. Pada tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels menerbitkan surat kabar mingguan Bataviasche Koloniale Courant yang memuat tentang peraturan-peraturan tentang penempatan jumlah tenaga untuk tata buku, juru cetak, kepala pesuruh dan lain-lain.

Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit. Medan Priyayi adalah surat kabar pertama yang dimiliki oleh masyarakat pribumi Indonesia, yang didirikan oleh Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo. Oleh sebab itu Raden Jokomono atau Tirto Hadi Soewirjo disebut sebagai tokoh Pemrakarsa Pers Nasional, karena dia adalah orang pertama dari Indonesia yang mampu memprakarsainya dan dimodali oleh modal Nasional.

  1. Pers Cina

Pers Cina adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Cina di Indonesia. Pers Cina meliputi koran-koran, majalah dalam bahasa Cina, Indonesia atau Belanda yang diterbitkan oleh golongan penduduk keturunan Cina

3. Pers Nasional

Pers nasional muncul di abad ke 20 di London dengan nama Medan Priyayi. Didirikan oleh Tirto Hadisuryo atau RadenDjikomono, yang dimaksudkan sebagai arti dari perjuangan dan pergerakan kemerdekaan. Tiro Hadisuryo pada akhirnya dianggap sebagai pioneer gagasan jurnalisme modern di Indonesia

Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran seperti, Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
Kemerdekaan Indonesia sendiri membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.
Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembredelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh  dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Independen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.

Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang dikeluarkan Dewan Pers dan Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI.