Nama : Rizma Bunga Vania
NPM : 18613017
Kelas : 2SA06
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
Nama Dosen : Ibu Adhita Anna Syarof

I. Masyarakat Perkotaan

-> Pengertian Masyarakat
Masyarakat (yang diterjemahkan dari istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau sebaliknya, dimana kebanyakan interaksi adalah antara individu-individu yang terdapat dalam kelompok tersebut. Kata “masyarakat” berakar dari bahasa Arab, musyarakah. Arti yang lebih luasnya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah kelompok atau komunitas yang interdependen atau individu yang saling bergantung antara yang satu dengan lainnya. Pada umumnya sebutan masyarakat dipakai untuk mengacu sekelompok individu yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Sumber: Terimakasih kepada http://sosialsosiologi.blogspot.com/2012/12/definisi-masyarakat.html

-> Syarat menjadi masyarakat
Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa disebut sebagai masyarakat.
1. Ada sistem tindakan utama.
2. Saling setia pada sistem tindakan utama.
3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.

-> Pengertian Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.

-> Dua tipe masyarakat
1. Masyarakat paksaan, misalnya Negara, masyarakat tawanan, dan lain-lain
2. Masyarakat merdeka, yang terbagi dalam :
a. Masyarakat nature, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan, suku, yagn bertalian dengan hubungan darah atau keturunan
b. Masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan, misalnya koperasi, kongsi perekonomian, gereja dan sabagainya

-> Ciri-ciri Masyarakat Kota
Ciri-ciri masyarakat kota, diantaranya:
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung padaorang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

Sumber: terimakasih kepada http://celoteh-galang.blogspot.com/2012/11/masyarakat-pedesaan-masyarakat-perkotaan.html

II. Masyarakat Pedesaan

-> Pengertian Desa
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.
Masyarakat pedesaan ditandai dengan kepemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang sangat kuat yang hakekatnya.

Sumber: Terimakasih kepada http://celoteh-galang.blogspot.com/2012/11/masyarakat-pedesaan-masyarakat-perkotaan.html

-> Ciri-ciri Desa
Secara umum pedesaan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

a.Kehidupan masyarakatnya sangat erat dengan alam.
b.Pertanian sangat bergantung pada musim.
c.Desa merupakan kesatuan sosial dan kesatuan kerja.
d.Struktur perekonomian bersifat agraris.
e.Hubungan antarmasyarakat desa berdasarkan ikatan kekeluargaan yang erat (gemmeinschaft).
f.Perkembangan sosial relatif lambat dan sosial kontrol ditentukan oleh moral dan hukum informal.
Norma agama dan hukum adat masih kuat.

Sumber: Terimakasih kepada http://ronnytriasmara.wordpress.com/2012/11/21/ciri-ciri-desa/

-> Unsur-unsur Desa
a. Daerah/wilayah yang merupakan tempat tinggal dan tempat beraktivitas.
b. Penduduk adalah terkait dengan kualitas dan kuantitas.
c. Tata kehidupan atau aturan–aturan yang berhubungan langsung dengan keadaan masyarakat dan adat istiadat setempat.

Sumber: Terimakasih kepada http://pinterdw.blogspot.com/2012/03/unsur-unsur-desa.html

-> Fungsi Desa

Fungsi-fungsi desa, yakni :

a. Desa sebagai hinterland (pemasok kebutuhan bagi kota)
b. Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan
c. Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota
d. Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia

Sumber: Terimakasih kepada http://rinesaa.blogspot.com/2012/11/klasifikasi-desa.html

III. Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masyarakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:

– Masyarakat Pedesaan
1.Perilaku homogen
2.Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
3.Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status .
4.Isolasi sosial, sehingga statik
5.Kesatuan dan keutuhan kultural
6.Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
7. Kolektivisme

– Masyarakat Kota:
1. Perilaku heterogen
2.Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
3.Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
4.Mobilitassosial,sehingga dinamik
5.Kebauran dan diversifikasi kultural
6.Birokrasi fungsional dan nilai-nilaisekular
7.Individualisme

Sumber: Terimakasih kepada http://celoteh-galang.blogspot.com/2012/11/masyarakat-pedesaan-masyarakat-perkotaan.html

IV. Cerita tentang Kampung Halaman
Sampai sekarang, setiap saya ditanya dimana kampung halaman saya, saya selalu jawab “Nggak punya kampung.” sambil tertawa. Karena saya lahir di Jakarta pada tahun 1995 lalu saya pindah pada tahun 2000 dan tinggal sampai sekarang di Bekasi. “Kampung halaman” itu sendiri menurut saya identik dengan tempat nan-jauh dari tempat seseorang tinggal, dan hanya dikunjungi, paling tidak, setahun sekali pada momen liburan. Bagaimana dengan saya? Jelas, kata “kampung halaman” tidak terlalu pas untuk diaplikasikan ke saya. Karena, Jakarta tidak jauh dari Bekasi dan saya seringkali bulak-balik Jakarta. Tetapi, karena definisi “kampung halaman” mengarah kepada “tempat dimana seseorang tinggal”, maka saya akan menuliskan beberapa hal tentang kampung halaman saya, Jakarta:

1. Kampung halaman saya merupakan ibukota negeri dimana saya berasal, Indonesia.🙂
2. Hampir seluruh kerabat keluarga dari Ibu saya tinggal di kampung halaman saya.
3. Saya sangat suka dengan makanan khas kampung halaman saya, yakni Kerak Telor.
4. Di kampung halaman saya terdapat “menara Eiffel-nya Indonesia” yaitu Tugu Monas.
5. Salah satu tempat rekreasi favorit keluarga terdapat di kampung halaman saya. Ancol namanya.
6. Kampung halaman saya sering disebut-sebut sebagai “tempat mengadu nasib” oleh orang-orang yang berasal dari kampung halamannya.
7. Kampung halaman saya dipenuhi dengan mall-mall dibanding pohon-pohon yang rindang, yang dimana hal yang baru saja saya tulis membawa saya ke poin terakhir tentang kampung halaman saya…
8. Kampung halaman saya sangat identik dengan macet dan banjir

Terimakasih.🙂